Cerita ini karya saya semua...jika jelek mohon dimaklumi...saya baru pemula...yang ingin menjadi penulis terkenal :D

Total Tayangan Halaman

Kamis, 23 Desember 2010

♥ Ibu ♥


saat pertama kali kubuka mataku
ku melihat pancaran lembutmu
kau membelaiku dan menciumku setulus hatimu
air mata menetes dari mata indahmu

dikala aku menangis ..
kau menghiburku
dikala aku tertawa..
kaupun ikut tertawa
dikala aku nakal
kau menegurku kemudian menciumku serta membelaiku

suatu hari..
dimalam hari yang sunyi
masih terdengar lirih
nyanyian lembutmu
meninabobokan aku 
sehingga ku tertidur lelap

hari hari berganti bulan
bulan bulan berganti tahun
ku mulai tumbuh
bertambah nakal
tetapi mengapa.. mengapa..
kau masih tetap menyayangiku.. menjagaku..
setulus hatimu

Sebab hidup itu singkat..beberapa tahun berlalu..
badanku yang kecil dan lucu kini
telah tumbuh besar
menjadi remaja..

kau tahu? 
ini semua adalah berkatmu
yang mendidiku.. menyayangiku..
hingga aku menjadi seperti ini

kini..
tak ada lagi nyanyian lirih yang menidurkanku
kini..
tak ada lagi tawa mu dari bibirmu yang selalu menciumku
kini..
tak ada lagi kecupan lembutmu
kini..
tak ada lagi teguran sayang saat kunakal
kini..
kau tak lagi disisiku
kuhanya bisa berdoa dan berdoa

andai saja.. aku mampu..
aku sanggup.. aku bisa..
untuk membalas semua kebaikanmu

tapi..
apalah daya..
aku hanya bisa menangis menyesali semua kesalahanku dulu
membantahmu.. membentakmu.. menyalahkanmu..
aku menyesal!
sangat menyesal!

hanya doa yang bisa aku kirimkan pada Tuhan
untuk mu Ibu..

kau tahu..?
apakah kau tahu..?
ku menyayangimu lebih dari kata yang terucap dibibirku ini
hanya 1 yang kumau
bersamamu selamanya untuk
membahagiakanmu menyayangimu ..
selama hidupku..

THE END
Lusia Yotista puisi
Selasa, 16 November 2010

Drama : Penyesalan

Ini drama karanganku, baru pertama kali buat drama, di baca ya :) 




ADEGAN 1
          Saat bel istirahat berbunyi seluruh murid langsung keluar menuju kantin, tetapi hanya Lina yang tetap tinggal di dalam kelas. Ia terlihat gusar, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Kemudian ia berjalan menuju meja milik Rani dan mulai merogoh-rogoh isi tas Rani.
Lina            : “Akhirnya…” (MEMANDANG DOMPET RANI)
Sementara Lina sibuk mengembalikan posisi barang-barang Rani seperti semula, ternyata Doni melihat apa yang dilakukan Lina
Doni                     : “Astaga! Bagaimana ya ekspresi Rani kalau aku beritahu? Hihihi”        (BERGUMAM DARI DEPAN KELAS)
Kriing… bel usai istirahat berdering, satu persatu murid-murid mulai memasuki kelas.
Rani           : “Eh, Lina kok tadi aku nggak lihat kamu di kantin ya?”
Lina            : “Eh, em… iya tadi aku memang nggak ke kantin kok.”
Rani           : “Loh, tumben, memang kenapa?”
Lina            : “Em…aku males aja.”
Rani           : “Oh, nanti istirahat kedua ikut aku ke kantin ya?”
Belum sempat Lina menjawab, Pak Rudi, guru Bahasa Indonesia kelas 8 sudah dating.
Pak Rudi     : “Anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran, bapak punya beberapa pengumuman.”
Doni             : “Apa pengumumannya, Pak?”
Pak Rudi     : “Pertama, karena kita sudah mulai mendekati tes akhir semester, diharap yang belum melunasi tabungan wisata mohon dilunasi.”
Doni             : “Lalu, apa pengumuman yang kedua, Pak?”
Rani             : “Doni, Pak Rudi kan belum selesai bicara.”
Pak Rudi     : “ Kedua, karena sekarang Indonesia sedang dilanda bencana, diharap partisipasi kalian untuk menyumbang para korban bencana.”
Doni             : “Baik, Pak. Lalu sumbangannya diserahkan pada siapa?”
Pak Rudi     : “Sebentar Doni, bapak belum selesai bicara”
Rani & Lina : “Huuu..”
Pak Rudi     : “Karena cuaca hari ini tidak bersahabat…”
Doni             : “Iya, Pak. Itu diluar sedang hujan abu.” (MENUNJUK KELUAR JENDELA)
Lina             : “Doni, diam dong!”
Pak Rudi     : “…maka hari ini kita pulang awal dan sumbangan dan tabungan wisata diserahkan ke kantor Tata Usaha. Selamat siang anak-anak!”
                     (BERJALAN MENINGGALKAN KELAS)
Anak-anak : “Selamat siang, Pak!”
Rani                     : “Untung aja, tadi aku sudah bawa uang untuk bayar tabungan wisata.”  (MEMBUKA TAS)
Lina            : “Oh, kalau aku sudah bayar.”
Rani           : “Eh..eh..loh? Kemana dompetku?”
Lina            : “Ke..kenapa Ran?”
Rani           : “Dompetku hilang, Lin!”
Lina            : “Ah, masa?”
Rina           : “Iya, tuh lihat, nggak ada kan? (MEMPERLIHATKAN ISI TASNYA)
Doni           : “Ha, ha, ha.”
Lina            : “Kok kamu malah ketawa sih?”
Doni           : “Aku tahu kok siapa pencurinya.”
Rani           : “Hah! Kamu tau? Siapa?”
Doni           : “Tuh, di sebelahmu.”
Lina            : “Eh…” (WAJAHNYA MULAI MEMUCAT)
Rani           : “Siapa sih? Disebelahku cuma ada Lina.”
Doni           : “Memang Lina.”
Rani           : “Hah? Doni, kamu nggak boleh sembarangan nuduh gitu dong!”
Doni           : “Oh, kamu perlu bukti?”
Doni berjalan menuju meja Lina, kemudian mencari-cari sesuatu  di dalam tas Lina.
Lina            : “Eh, eh, kamu nga[ain buka-buka tasku?”
Doni           : “Nah, ketemu!” (MENGANGKAT DOMPET RANI)
Lina            : “Eh..”
Rani           : “Loh, Lina, kenapa dompetku bias ada di dalam tasmu?”
Lina            : “Aku juga nggak tau.”
Doni           : “Bohong. Aku lihat tadi waktu jam istirahat Lina tidak ke kantin, tetapi di kelas untuk melaksanakan niat jahatnya, mencuri dompetmu Rani.”
Rani           : “Apa betul Lina?” (DENGAN WAJAH SERIUS)
Lina            : “I..iya..be..betul Rani.” (SEMAKIN PUCAT)
Rani           : “Ya ampun Lina, kamu kok tega sih? Kamu senang kalau aku nggak ikut wisata gara-gara tabungan wisataku nggak lunas?”
Lina            : “Bu..bukan begitu Rani.”
Rani           : “Halah, ternyata selama ini aku salah menilai kamu sebagai seorang sahabat.” (DENGAN WAJAH KECEWA)
Lina            : “Maaf Rani”
Rani           : (MEMBUKA DOMPETNYA) “Hah, kok duitnya ludes sih?”
Lina            : “Maafkan aku Rani, tadi sudah aku gunakan.”
Rani           : “Apa?”
Lina            : “Maaf ya Rani, nanti pasti akan aku ganti kok uangnya, tapi tolong beri kesempatan aku untuk mencicilnya.”
Rani           : “Nggak, pokoknya dalam minggu ini kamu sudah harus mengembalikannya!”
Lina            : “Tapi, Rani..”
Rani           : “Sudah, sudah, ayo Doni kita pulang saja!”
Doni           : “Ayo, kita tinggal aja pencuri licik ini!”
Lina            : “Rani..” (DENGAN WAJAH SEDIH)


ADEGAN 2
          Di rumah Lina, Lina pulang dengan lesu. Ia bingung bagaimana caranya meminta uang yang cukup banyak kepada ayahnya, Pak Pamungkas.
Lina            : “Selamat siang.”
Pak Pamungkas : “Selamat siang, loh kok sudah pulang?”
Lina            : “Iya, tadi memang pulang awal karena cuaca tidak bersahabat.”
Pak Pamungkas : “Oh begitu. Kenapa mukamu lesu begitu?”
Lina            : “Em, tidak papa kok, cuma capek aja.”
Pak Pamungkas : “Pulang awal kok capek? Kalau ayah dulu jalan dari rumah  sampai sekolah 3 km lho! Masa kalah sama orang jaman dulu?”
Lina            : “Kok dibandingkan dengan ayah sih?”
Pak Pamungkas : “Ya sudah, makan dulu sana!”
Lina            : “Nggak ah, Lina mau ke kamar saja.”

ADEGAN 3
        Di kamar, Lina merenungi nasibnya. Ia bingung, ia juga tidak tega bilang pada ayahnya untuk meminta uang mengganti uang Rina yang dicurinya. Tanpa sadar ia berbicara sendiri.
Lina                     : “Uuh, kanapa tadi aku mencuri segala ya? Rina jadi benci sama aku. Kenapa juga si Doni pakai mergoki aku segala? Sial!”
Pak Pamungkas : “Loh, dari tadi ayah dengar ngomong-ngomong sendiri? Dari pada ngomong-ngomong sendiri, lebih baik makan sana!”
Lina            : “Eh, ayah sudah dari tadi ya di situ?”
Pak Pamungkas : “Dari tadi muka kamu lesu kaya gitu, ada apa sih?”
Lina            : “Em, begini. Tadi aku…mencuri uang Rina.”
Pak Pamungkas : “Hah, mencuri?”
Lina            : “Eh, tunggu penjelasanku dulu, yah. Di sekolah tadi disuruh melunasi tabungan wisata, tapi Lina tidak punya uang. Lina tidak enak kalau minta uang ayah.”
Pak Pamungkas : “Aduh, Lina. Kalau butuh uang itu bilang, kan bisa ayah carikan utangan.”
Lina            : “Iya, tapi Lina tidak suka ayah mengutang terus.”
Pak Pamungkas : “Ayah juga tidak suka mengutang, tapi karena itu kan kewajiban ayah untuk membiayai kamu.”
Lina            : “Iya, ayah.”
Pak Pamungkas : “Kamu kan tau utang ayah itu sudah menumpuk, kenapa kamu bikin masalah sih Lina? Ayah jadi tambah pusing.”
Lina            : “Maaf ayah.”
Pak Pamungkas : “Ya sudah, sebagai hukumannya kamu tidak boleh ikut wisata sekolah!” (PERGI MENINGGALKAN LINA)
Lina            : “Loh ayah! Ternyata memang harus aku lakukan sendiri.”

ADEGAN 3
        Pagi harinya Lina tidak terlihat ada di sekolah, melainkan ada di jalan untuk bekerja mencari uang, menjadi penjual koran.Tetapi Edi, teman sekelasnya melihat Lina.
Lina            : “Koran, koran, koran, koran. Korannya Pak?”
Edi              : (MENGHAMPIRI LINA) “Loh Lina, kamu nggak sekolah?”
Lina            : “Eh, em.. nggak, Di.”
Edi              : “Loh, kenapa?”
Lina            : “Aku cari uang dulu deh, Di.” (MENINGGALKAN EDI)
Edi              : “Eh, Lina, kenapa sih?” (SETENGAH BERTERIAK)
Lina            : “Nggak papa kok, sana kamu sekolah aja!” (BERTERIAK PADA EDI)

ADEGAN 4
        Sudah 4 hari Lina tidak masuk sekolah. Rani dan Edi mencadi cemas.
Rani           : “Kemana sih si Lina? Udah 4 hari nggak kelihatan.”
Doni           : “Mungkin mencuri lagi, trus dihukum deh sama orang tuanya.”
Edi              : “Hus, kamu jangan ngomong gitu.”
Rani           : “Iya nih, aku jadi khawatir.”
Doni           : “Ngapain khawatir sama pencuri?”
Edi              : “Doni, nggak boleh ngomong gitu!”
Rani           : “Lina kenapa ya?”
Edi              : “4 hari yang lalu, aku lihat Lina lagi jualan Koran.”
Rani           : “Hah, ngapain dia jualan koran?”
Edi                       : “Kemarin aku tanya ayahnya, katanya memang Lina lagi ada masalah sama temannya. Kayaknya ayahnya Lina nggak tau kalau Lina jualan koran untuk cari uang, ngelunasin utangnya sama kamu.”
Rani           : “Ya ampun, trus sekarang Linanya gimana?”
Edi             : “Katanya, sakit kecapekan.”
Rani           : “Aku jadi merasa bersalah nih.”
Doni           : “Aku juga.”
Rani                     : “Gimana kalau pulang sekolah nanti kita tengok Lina?”
Edi & Doni : “Oke”

ADEGAN 5
          Rani, Edi, dan Doni sampai di rumah Lina. Mereka, terutama Rani dan Doni merasa bersalah kepada Lina.
Rani, Edi, & Doni : “Permisi”
Lina            : “Iya”
Rani           : “Hallo Lina, gimana keadaanmu?”
Lina            : “Eh kalian, aku baik-baik aja kok. Ayo masuk dulu.”
Rina           : “Lina, kami mau…”
Lina            : “Rina, maaf ya. Aku belum bisa mengganti uangmu.”
Rina           : “Kamu nggak usah minta maaf.”
Doni           : “Iya, sebenarnya kami yang salah.”
Lina                     : “Loh, kok pada minta maaf sih? O iya Rin, ini uangnya aku cicil ya?” (MENYODORKAN SEJUMLAH UANG)
Rina           : “Udah deh nggak usah dikembaliin.”
Lina            : “Yah, berarti sia-sia dong aku kerja?”
Rina                     : “Nggak juga.”
Edi             : “Gimana kalau uangnya untuk ngerayain?”
Doni           : “Lebih baik uangnya jangan untuk makan-makan, kita sumbang untuk korban bencana alam saja.”
Edi, Rina & Lina : “Setuju”
Sejak saat itu, mereka berempat menjadi teman yang sangat akrab. Dan mulai saat itu pula mereka saling terbuka serta jujur satu sama lain

Lusia Yotista
Rabu, 12 Mei 2010

Sleeping Handsome ( sanduran dari Sleeping Beauty versi 'ASAL')

Di suatu jaman (jaman amburadul) hiduplah seorang pangeran yang sangat wangi (n' sedikit ganteng kali ya) yah sangat wangi karena dia tinggal di kerajaan wangi! Nah, sebaliknya neh...
ada raksasa yang sangaaaatt bauuu...entah kenapa ia menjadi sangat bau dan anehnya dia sendiri tak sadar dia itu bauu...(aku juga bingung?!). Dan tambah lagi neh anehnyaa...raksasa bau yang tinggal di negeri bauu itu ngefans alias suka sama pangeran wangi!!! (wuaahhh...gimana tuh anaknya kalo jadian??)
***Ganti hari di kerajaan bau***
Karena tak tahan memendam perasaan, akhirnya raksasa bau itu menulis status di fb (jangan kaget, kan aku dah bilang jaman amburadul) "ooohh ganteeenggnyaaa aku suukaa kamuu panggeraan wannggiii muuahh...miss u..." atau "ahhh.....gak bisa ngelupain kamu pangeran wangiii...muaaahhh..." dan "paangeraan kapaan jadiann nehhh?????"
Saking gilanya dengan pangeran wangi, sampai-sampai raksasa bau berani (walaupun melanggar kodrat) menulis di 'wall' fb sang pangeran wangi...(cie'elah)
***Ganti tempat ke kerajaan pangeran wangi***
Saat bingung mau ngapain, pangeran wangi membuka fbnya. Dia tersentak kaget (hampir pingsan) melihat tulisan-tulisan di 'wall' fb miliknya yang tertulis atas nama RAKSASA BAU. Saking kagetnya pangeran wangi jadi pingsan beneran neh.
Wuah...orang tua pangeran wangi sangat sedih, karena pangeran wangi nggak bangun-bangun. Semua tabib di seluruh penjuru sudah didatangkan tapi tidak ada juga obat yang bisa membangunkan pangeran wangi ituu.
***Kembali ke raksasa bau***
"huhuhuhuhu" (nangis ceritanya) raksasa bau sangat sedih mendengar berita pangeran wangi tidak bangun lagi setelah membaca 'wall' darinya. Dan itu semua ulahnya. Andaikan dia bisa mengontrol kangennya sama pangeran wangi.
Kemudian ia membuat sebuah tekat. Tekatnya yaiituuu...membangunkan pangeran dari tidurnya. Karena ia pikir itu ulahnya.
Ia jadi ingat cerita sleeping beauty. Kesel juga dia, kenapa nggak dia aja yang tidur trus dicium sama pangeran! HUH! Yah tapi gak apa-apa deh yang penting dia bisa bangunin pangeran dari tidurnya. Rencananya raksasa bau akan pergi ke kerajaan wangi dengan tujuan menyembuhkan pangeran trus berlagak kayak di cerita sleeping beauty. (tau kan jalan ceritanya?)
***Di Kerajaan Wangi***
Tok.tok.tok....permisi...spada...anybody home...
tanya raksasa bau (yang sebelumnya uda coba-coba mandi kembang 7 rupa biar nggak bau, walaupun dia sendri gak sadar kalo bau) di luar pintu kerajaan wangi yang baunya udahh wanggiiiiiii banget...
Penjaga uda siap-siap dengan senjata parfumnya neh.
Sebelum itu, raksasa minta izin dengan tujuan 'menyelamatkan pangeran wangi'. Yah karena pangeran belum bangun-bangun dari kemarin. Ya udah boleh aja.
Saat masuk, seluruh warga kerajaan ( yg pasti wangi-wangi ) uda siap penutup hidung. Ya memang raksasa bau sudah terkenal raksasa paling bau di jaman itu.
Saat akan melakukan adegan pangeran ( yang harusnya salah tokoh yang dicium malah pangeran *.* ), saat akan mendekat ke wajah pangeran....semakin dekat....closer....closer....dekattt...dan...."uhuk-uhuk-uhuk" (gaya pangeran mau muntah, batuk-batuk dulu) Yah walaupun belum jadi cium, uda bangun. "AAahh bau bangett...." keluh pangeran. Huhuhu raksasa bau sangat sedih.
Setelah tau anaknya mengeluh karena bau,orang tua pangeran memerintah penjaga agar raksasa bau segera dikeluarkan. Betapa hancurnya perasaan raksasa bau, kan aku yang bangunin pangeran...kan aku...kan aku..hik-hik..harusnya aku nikah sama pangeran. Tapi karena orang tua pangeran bau kasihan dengan raksasa bau, akhirnya diberi bingkisan yang sangat besar. Walaupun hancur hati raksasa bau, tapi sedikit terobati oleh bingkisan besar dari orang tua pangeran.
***Di Kerajaan Bau***
Udah nggak sabar....waktu raksasa bau bukaa.....ternyata.....Ah isinya parfum 7 wangian..kembang 7 rupa..rexona 7 warna..
Grrrrrrrrrrrrrr.....pangeran wangiii...I HATE YOU!!!
*Kemudian kembali raksasa bau menulis di dinding fb pangeran bau.Tapi sekarang bunyinya lain...."I HATE YOU PANGERAN !!!" atau "Aku benci pangeran!!!" dan "Pangeran wangi jahaatttt!!!" dan lain sebagainya.
Kira-kira apa respon pangeran wangi saat membuka dinding fbnya? Apakah pingsan lagi? Atau dia tidak boleh buka fb oleh orang tuanya karena kejadian kemarin? Tak taulah...terserah kalian mau jadi gimana...

THE END...............

NB : Cerita ini hanya asal, dan saya juga tidak mengejek siapa-siapa. Ini fiksi. Dan ini ide saya dan sebagian ide teman saya. Terimakasih.
Lusia Yotista
Sabtu, 08 Mei 2010

Arti Persaudaraan

Ada kakak beradik yang sudah yatim piyatu. Mereka sangat akur satu sama lain, walaupun mereka juga bukan keturunan orang kaya. Kakaknya bernama Kiko dan adiknya bernama Kiki.
Suatu hari, setelah pulang sekolah, mereka bertemu dengan gembel tua yang tergeletak di pinggir jalan. Karena kasihan, mereka membuka tas mereka dan mengambil bekal yang tersisa untuk diberikan pada gembel tua itu.
Setelah menerima sisa bekal kakak beradik itu dan memakannya, gembel tua itu berterima kasih kepada Kiko dan Kiki.
Saat Kiko dan adiknya akan melanjutkan perjalanan pulang, gembel tua itu memberikan pensil kayu untuk kedua kakak beradik itu sambil berkata, “ Jika kalian menginginkan sesuatu, tulislah keinginan kalian dengan pensil ini.” “Tapi ingat! Pensil ini hanya bekerja untuk 3 keinginan. Jika kalian meminta lebih dari 3 kali, kalian sendiri yang akan menjadi barang itu.”
Setelah itu Kiko dan Kiki pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.
Sampai rumah, saking senangnya mereka segera meminta apa yang mereka butuhkan 3 kali berturut-turut. Hingga pensil itu tidak bekerja lagi.
Di suatu siang yang cerah, Kiki bermain ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumahnya.
Di rumah temannya itu Kiki melihat boneka yang sangat bagus. Kiki sangat senang bermain di rumah temannya karena dia boleh bermain sesuka hati boneka temannya itu.
Tak terasa hari mulai gelap, Kiki masih asik bermain dengan boneka temannya. Kakaknya, Kiko akhirnya menjemput Kiki. Kiki menangis karena tidak mau pulang dan minta dibelikan boneka seperti milik temannya itu. Kiki kasihan juga melihat adiknya menangis dalam perjalanan pulang, tetapi yah...Kiko tidak punya uang yang cukup untuk menuruti keinginan adiknya itu.
Karena Kiki dan Kiko memang ditinggal orang tuanya tanpa warisan.
Paginya, mereka pergi ke sekolah seperti biasa. Di sekolah, Kiki sedih karena teman-temannya sedang membicarakan boneka mereka. Ia sedih karena tak punya boneka yang dapat dibanggakan untuk dipamerkan pada teman-temannya.
Setelah bel pulang sekolah, Kiki cepat-cepat pulang tanpa menunggu kakaknya.
Di rumah Kiki segera menulis dengan pensil pemberian gembel tua itu dulu. Kiki lupa bahwa pensil itu sudah tidak bekerja lagi.
Saat itupun Kiko sampai di rumah, memanggil nama adiknya. Tapi tidak ada jawaban dari Kiki. Setelah lelah mencari-cari adiknya, ia menemukan pensil ajaib itu tergeletak di sebelah boneka yang sangat bagus di kamar adiknya.
Kiko sangat kaget, kemudian ia tahu bahwa adiknya telah berubah menjadi boneka. Kiko menangis tak henti-henti sambil memeluk boneka jelmaan adiknya.
Tapi...apa gunanya ya menangis tanpa melakukan sesuatu? Batinnya.
Saat itu, segera Kiko mencari gembel tua yang memberikan pensil ajaib itu dan berdoa semoga dapat memberikan solusi.
Saat Kiko bertemu dengan gembel tua itu dan menceritakan semuanya, ia malah tertawa.
Kiko sangat kesal dan hampir putus asa.
Gembel itu berkata, bahwa boneka jelmaan adiknya itu dapat kembali seperti semua dalam 2 hari. Jadi gembel itu hanya mengetes persaudaraan antara Kiki dan Kiko.
2 hari kemudian, di sekolah Kiko sangat heran melihan adiknya Kiko bermain di halaman sekolah dengan normal. Tanpa terjadi apa-apa. Anehnya pensil ajaib itupun hilang entah kemana.
Lusia Yotista

Misteri Naga Putih

Konon, dahulu kala, ada naga putih di belakang kaki gunung terlarang. Naga tersebut dipercaya dapat membuat hidup abadi dan akan membuat kaya raya bila dapat membunuhnya. Banyak yang sudah berusaha mencari dan membunuh naga itu, tetapi mereka hilang dan tidak pulang entah kemana. Sampai sekarang, zaman modern ini, masih banyak juga yang mempercayai mitos naga putih.
Ada seorang anak kecil yang sangat miskin. Ia satu-satunya orang yang tidak mempercayai legenda naga putih.“Ah, mana ada makhluk hidup yang bisa membuat manusia hidup abadi”, begitu pikirnya. Memang ia tidak mudah percaya dengan legenda atau mitos-mitos yang masih dipercaya pada zaman modern ini. Tetapi sebaliknya, kakak anak miskin itu, sangat percaya terhadap mitos-mitos zaman dahulu. Pernah ia memaksa adiknya sendiri untuk ikut memburu naga putih. Tetapi sang adik berkali-kali menolak.
Suatu pagi, anak miskin yang sudah yatim piyatu itu mencari kakaknya. Tetapi ia tidak dapat mencari kakak satu-satunya itu dimanapun, sang adik malah menemukan sepucuk surat. Dari situlah sang adik tahu dimana kakaknya pergi. Ternyata kakak anak miskin itu pergi mencari naga putih sendirian.
Sudah seminggu, kakak anak kecil itu tidak segera pulang dari berkelana memburu naga putih. Sang adik semakin cemas, dan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari kakanya di gunung terlarang. Ia tidak tahu mengapa gunung itu dijuluki gunung terlarang. Nama itu sudah turun-menurun dari nenek moyangnya.
Anak kecil itu dengan susah payah mendaki gunung terlarang, dan menyusuri hutan-hutan. Hampir tiba di belakang gunung ia menemukan HP, pistol, alat telekomunikasi dan senjata-senjata lain bertebaran di tanah. Belum selesai ia berfikir dan terheran-heran, ia mendengar suara mesin pabrik. Kemudian ia mengintip dari balik semak-semak. Ia sangat terkejut, di belakang gunung ia menemukan pabrik besar dengan ribuan pekerja. Pekerja-pekerja itu hampir semuanya kurus kering. Anak kecil itu juga melihat para pekerja yang ketahuan berhenti bekerja akan disiksa oleh penjaga-penjaga pabrik yang berbadan kekar. Ia juga melihat kakaknya yang telah menjadi kurus sedang dipukul oleh penjaga pabrik.
Anak kecil itu sangat terkejut, tanpa berpikir panjang ia mengambil salah satu HP yang terjatuh di tanah. Beberapa menit kemudian, terdengarlah sirene mobil polisi. Polisi-polisi itu kemudian menangkapi para petugas dan bos yang terlibat dalam kerja paksa.
Ternyata para penjahat ini, memanfaatkan legenda naga putih untuk mendapatkan pekerja dan kemudian dipekerjakan dengan paksa, tanpa upah untuk bekerja di pabrik terlarang. Orang-orang yang percaya dan mendaki ke gunung terlarang akan ditangkap dan dilucuti untuk dijadikan pekerja.
Anak kecil itu kemudian diberi penghargaan sebagai detektif cilik.
Lusia Yotista

Gadis Miskin dan Cincin Ajaib

Pada jaman dahulu, di sebuah kota terpencil, Kota Hedwess namanya. Hiduplah seorang gadis miskin. Ia sudah sebatang kara. Ibunya telah meninggal saat ia berumur 5 tahun. Sedangkan ayahnya entah kemana. Tetapi, walupun miskin, ia sangat baik, setiap hari ia selalu menyumbangkan sedikit hasil jualannya pada orang miskin.
Di pagi hari, gadis miskin itu selalu bangun pagi untuk mencari kayu bakar. Sore harinya, ia menuju ke pasar untuk menjual kayu bakar yang ia temukan di hutan. Gadis miskin itu selalu pulang setelah larut malam, karena letak pasar dengan rumahnya itu sangatlah jauh.
Pada suatu hari, ia bangun pagi seperti biasanya. Karena pagi itu masih gelap, ia kemudian mengambil obor di perapian belakang rumahnya. Saat ia akan mengambil obor, ia mendengar sesuatu dari balik pepohonan. Gadis miskin itu kemudian mengintip, tetapi tidak menemukan apa-apa.
Tetapi ia seperti melihat benda berkilauan, kemudian ia ambil benda berkilauan itu yang ternyata adalah cincin tua yang sudah kusam.
Gadis itu merawat cincin tua yang sudah kusam menjadi berkilauan kembali. Mulai saat itu ia setiap hari memakai cincin, hingga semua penghuni pasar heran. Gadis itu miskin, kenapa ia bisa memakai cincin sebagus itu? Banyak yang berpikiran, bahwa gadis itu mencuri. Ada juga yang ingin membeli cincin itu dengan harga mahal. Walapun begitu, ia tetap bersikeras untuk tidak menjual cincin kesayangannya itu, karena baginya, hanya cincinnyalah yang selalu menemaninya di manapun ia berada.
Pada malam yang dingin, gadis itu meringkuk kedinginan di pojok ruangan rumahnya yang kumuh. Kemudian ia mulai berkhayal, akan tempat tidur yang mewah, empuk, dan hangat. Kemudian ia mulai mengeluh, “Ah, andaikan saja, aku ini orang kaya. Betapa bahagianya aku, dapat membeli kasur empuk, hangat, mewah nan mahal itu. Seketika saja cincin yang ia pakai bersinar, dan munculah kasur mewah yang ada dipikiran gadis miskin itu. Ia sangat gembira.
Tanpa berpikir panjang, ia kemudian mulai memikirkan hal-hal yang selama ini ia inginkan, tetapi ia tidak dapat membelinya.
Malam berganti malam, hari berganti hari, dan minggu berganti minggu, gadis miskin itu sekarang sudah mulai jarang datang ke pasar, ia juga lupa pada orang-orang miskin yang dulu sering ia tolong yang selalu menunggunya setiap pagi di pasar. Orang-orang di pasar juga mulai merindukan gadis itu.
Saat salah seorang nenek datang ke rumah gadis miskin itu, ia terkejut dan hampir mengira ia salah datang. Saat ia melihat gadis cantik dengan banyak perhiasan dan barang-barang mahal, keluar dari rumah mewahnya. Awalnya, sang nenek mengira bahwa ia salah orang. Tetapi setelah ia perhatikan baik, ternyata memang ia, gadis miskin yang baik yang selalu menolong dan memberi sedekah pada orang miskin. Sang nenek itu merasa gembira karena ia senang karena gadis itu telah berhasil.
Saat nenek miskin itu memanggil nama gadis itu, ia tidak menoleh, tetapi saat dipanggil kedua kalinyapun tetap tidak menoleh, sampai suara nenek itu hampir habis. Akhirnya ia mencoba berani mendatangi gadis yang dulunya miskin itu dengan gembira. Tetapi tanpa disangka, di sana nenek itu hanya dimaki-maki oleh gadis itu.
Dengan sedih, ia pergi, tanpa sengaja ia mengutuk gadis itu agar gadis itu menjadi miskin lagi. Kata-kata sang nenek didengar oleh cincin ajaib milik sang gadis. Seketika cicin itu bercahaya dan bukannya mengeluarkan keajaiban tetapi semua kepunyaan sang gadis musnah. Yang tetinggal hanya rumah kumuhnya. Cincin itupun jadi ikut musnah.
Di rumahnya yang kembali kumuh itu ia menangis dan menangis menyesali hidupnya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tahun berganti tahun, gadis itu telah menjadi gadis dewasa. Ia pun telah melupakan kejadian yang pernah ia rasakan dulu. Ia pun sudah menjadi gadis dermawan dan baik hati lagi. Dan ia telah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan lagi mengeluh dan melupakan semua teman-teman miskinnya yang membutuhkannya.
Lusia Yotista ajaib, cincin, gadis

Susi Dalam Dunia Tikus

"Iih...!!! Tikus lagi, tikus lagi!”, jerit Susi saat ia melihat seekor tikus mencuri rotinya didapur. Saat mendengar suara Susi, tikus itu lari menuju tempat persembunyiannya.
Susi memang sangat benci dengan tikus. Ia sering memukul tikus-tikus yang ia temui di manapun sampai mati. Ia akan marah pada pembantu-pembantunya jika ia melihat satu tikus di rumahnya.
Suatu hari Susi disuruh ibunya untuk membereskan gudang, tetapi Susi tidak mau. Walaupun kemudian Susi menurut, saat ibunya bilang tidak akan membelikan boneka yang diinginkan Susi jika ia tidak mau membereskan gudang. Dengan cemberut, Susi mengambil kemucing dan sapu.
Susi memang sangat benci dengan yang namanya gudang. Namun, yah, daripada ia tidak mendapat boneka yang ia inginkan.
Hampir seluruh gudang bersih, tapi Susi sudah lelah. Saat akan beristirahat, ia mendengar suara tikus. Kemudian Susi, mencari asal suara tikus yang ia benci itu. Rasanya, jika mendengar suara tikus, ingin segera Susi memukul-mukul dan membunuh tikus itu.
Saat, susi tahu, asal suara tikus itu berasal dari tikus hitam kecil. Ia beraksi dengan sapunya. “Hiiiyaa!!!”. Saat Susi sudah siap dengan sapunya, tikus itu berbalik dan berbicara. Susi sangat kaget dan takut. Tikus itu berpesan sebelum pergi, “Karena kamu sering menyengsarakan masyarakat dunia tikus, kamu akan dihukum!”.
Tanpa menghiraukan pesan si tikus, Susi berjalan keluar dari gudang. Tetapi tiba-tiba ia mulai menyusut, mengecil, sekecil tikus, tubuhnyapun berubah menjadi tikus hitam. “Aaaa..!!!”, jeritnya, tetapi ia tidak bisa berbicara, hanya suara “ciiit” yang dapat ia katakan. Ia sangat sedih.
Susi mendengar banyak sekali suara tikus. Ia sangat senang karena mungkin ia bisa mendapat teman. Ia mengintip melihat kumpulan tikus-tikus bau yang sedang memperhatikan sesuatu. Ternyata tikus-tikus itu sedang memperhatikan sang raja tikus. Anehnya ia dapat mengerti bahasa tikus, iapun dapat berbicara dalam bahasa tikus.
Sang raja tikus memerintahkan ini dan itu. Karena menurut Susi sulit, iapun tidak berminat untuk bekerja. Ia hanya memperhatikan tikus lainnya bekerja keras. Ada yang membuat lubang perlindungan, ada yang mencuri makanan untuk persediaan musim dingin, dan sebagainya. Tetapi sang raja melihat Susi tidak bekerja. “Hei kamu, kenapa kamu tidak bekerja? Semua tikus harus bekerja di bawah perintahku!” bentak sang raja tikus. Susipun berkata, bahwa ia adalah manusia yang dihukum menjadi tikus. “Oo, karena kamu manusia, berarti kamu pasti akrab dengan manusia kan? Nah, tugasmu gampang jika begitu. Ambillah benang sweater milik manusia yang digantungkan di atas lemari yang terbuka itu.”, kata sang raja sambil menunjuk swater di dalam lemari. “Lho, tetapi jika aku tertangkap manusia, aku akan dibunuh.” tolak Susi. “Lho, katamu kamu manusia, pastilah kamu kenal dari salah satu manusia di luar itu kan?”. Susi tidak bisa menolak.
Susi akhirnya dengan berat hati menuju keluar gudang. Susi berlari menuju lemari. Ia tahu sweaternya dulu waktu jadi manusia itu sudah sedikit sobek. Maka ia mencari sobekan dan menarik benang yang terurai. Tetapi sialnya Susi terjerat benang yang telah ia tarik panjang itu. Apalagi pembantu Susi datang melihat Susi sebagai tikus menarik-narik benang sweater.
“Aduh, kok bisa ada tikus di sini, untung tidak ada non Susi, kalau ada sudah kena marah saya!”
Susi merenung atas perkataan pembantunya itu. Tetapi tidak ada waktu, pembantunya itu telah mengambil sapu untuk siap memukulnya.
“Aaaaaaa......!!!!!!!!” jerit Susi sambil menutup mata.
“Susi, Susi, bangun Susi,” terdengar suara lembut mama membangunkan Susi dari tidurnya. “Ah...leganya, ternyata hanya mimpi”, gumam Susi. “Kenapa kamu malah tidur di sini Susi, mau ikut belanja apa tidak? Kamu juga ingin boneka kan? Ayo, segera mandi kemudian kita berangkat”, kata mama dengan lembut.
Dengan gembira Susi berangkat untuk mandi. Tetapi Susi melihat pintu lemari terbuka dan di situ tergantung sweater miliknya. Ia kaget melihat benang yang terulur. Susi ingat saat ia menjadi tikus dalam mimpinya, mengulur-ulur benang sweater. “Ah, masa...”, pikir Susi. Tapi ia menjadi mendapat pelajaran. Ia tidak akan memukul-mukul tikus jika tikus itu tidak mengganggu.
Lusia Yotista Tikus